Amankan Pilkada, Polres Kudus Terjunkan Raisa

 

Sumber : google.com

 

Pengertian PILKADA atau PEMILUKADA. Setiap Daerah di indonesia Mempunyai Pemimpin diantaranya adalah Gubernur, Bupati dan wali kota. Nah untuk memilih pemimpin tersebut maka pemerintah pusat melaksanakan pemilihan langsung yang dilakukan oleh rakyat dalam satu daerah. Pemilihan ini biasa disebut sebagai PILKADA.

Pemilihan kepala daerah atau yang biasa disebut PILKADA atau Pemilukada dilakukan secara langsung oleh penduduk daerah administratif setempat yang memenuhi syarat. Pemilihan kepala daerah dilakukan satu paket bersama dengan wakil kepala daerah. Kepala daerah dan wakil kepala daerah yang antara lain Gubernur dan wakil gubernur untuk provinsi, Bupati dan wakil bupati untuk kabupaten, serta Wali kota dan wakil wali kota untuk kota.
Pilkada diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota dengan diawasi oleh Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Provinsi dan Panwaslu Kabupaten/Kota. Sedangkan Khusus untuk daerah Aceh, Pilkada diselenggarakan oleh Komisi Independen Pemilihan (KIP) dengan diawasi oleh Panitia Pengawas Pemilihan Aceh (Panwaslih Aceh).

Pengertian Lain tentang Pilkada adalah Pemilihan Gubernur dan pemilihan Bupati/Walikota yang merupakan sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat di provinsi dan Kabupaten/Kota untuk memilih Gubernur dan Bupati/Walikota berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Dalam penyelenggaraan PILKADA telah diatur dalam Undang-Undang berikut adalah Dasar Hukum Penyelenggaraan PILKADA yang antara lain adalah :
Undang-undang (UU) Nomor: 32 tentang Pemerintah Daerah
Undang-undang (UU) Nomor: 32 tentang Penjelasan Pemerintahan Daerah
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor: 17 tentang PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 6 TAHUN 2005 TENTANG PEMILIHAN, PENGESAHAN PENGANGKATAN, DAN PEMBERHENTIAN KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH
PP Pengganti UU Nomor: 3 tentang PERPU NO 3 TAHUN 2005

Konflik kerusuhan yang terjadi pada manusia bersumber pada berbagai macam sebab. Begitu beragamnya sumber konflik yang terjadi antar manusia, sehingga sulit untuk dideskripsikan secara jelas dan terperinci sumber dari konflik. Hal ini dikarenakan sesuatu yang seharusnya bisa menjadi sumber konflik, tetapi pada kelompok manusia tertentu ternyata tidak menjadi sumber konflik, demikian hal sebaliknya. Kadang sesuatu yang sifatnya sepele bisa menjadi sumber konflik antara manusia. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawa sertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Kesimpulannya sumber konflik itu sangat beragam dan kadang sifatnya tidak rasional. Oleh karena kita tidak bisa menetapkan secara tegas bahwa yang menjadi sumber konflik adalah sesuatu hal tertentu, apalagi hanya didasarkan pada hal-hal yang sifatnya rasional. Pada umumnya penyebab munculnya konflik kepentingan sebagai berikut

Perbedaan Pendapat
Suatu konflik yang terjadi karena pebedaan pendapat di mana masing-masing pihak merasa dirinya benar, tidak ada yang mau mengakui kesalahan, dan apabila perbedaan pendapat tersebut amat tajam maka dapat menimbulkan rasa kurang enak, ketegangan , bahkan berujung pada konflik dan sebagainya.

Salah Paham
Salah paham merupakan salah satu hal yang dapat menimbulkan konflik. Misalnya tindakan dari seseorang yang tujuan sebenarnya baik tetapi karena terjadi kesalahpahaman, yang diterima sebaliknya dalam arti salah paham oleh individu yang lain.

Ada yang dirugikan
Tindakan salah satu pihak mungkin dianggap merugikan yang lain atau masing-masing pihak merasa dirugikan pihak lain sehingga seseorang yang dirugikan merasa kurang enak, kurang senang atau bahkan membenci.

Perasaan Sensitif
Seseorang yang terlalu perasa sehingga sering menyalah artikan tindakan orang lain. Contoh, mungkin tindakan seseorang wajar, tetapi oleh pihak lain dianggap merugikan.

Perbedaan individu
Perbedaan kepribadian antar individu bisa menjadi faktor penyebab terjadinya konflik, biasanya perbedaan individu yang menjadi sumber konflik adalah perbedaan pendirian dan perasaan. Setiap manusia adalah individu yang unik, artinya setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan permukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda – beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.

Perbedaan latar belakang kebudayaan
Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda. Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.

KUDUS – Polres Kudus kini memiliki mobil baru yang berfungsi untuk mencegah aksi anarkistis yang bisa saja dilakukan massa di wilayah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah (Jateng). Mobil baru milik polisi Kudus itu dinamai ‘Raisa’ atau Pengurai Massa.

Menurut kisah yang dipaparkan Humas Polres Kudus di akun Instagram, Sabtu 3 Februari 2018, mobil bernama unik layaknya nama penyanyi ternama di Indonesia itu sebenarnya memiliki nama lengkap Mobile Sound System Pengurai Massa.

Mobil itu menyita perhatian sejumlah orang kala tampil dalam latihan Sispam Kota Polres Kudis di Sipang Tujuh, Kabupaten Kudus, Sabtu pekan lalu. Humas Polres Salatiga menjelaskan mobil Raisa itu memiliki dua speaker yang mampu menghasilkan suara hingga 158 desibel.
“Inilah Raisa (Mobile Sound System Pengurai Massa) yang merupakan mobil dinas terbaru yang dimiliki oleh Polres Kudus dengan kemampuan andalannya terletak pada dua unit speaker-nya yang dapat mengeluarkan suara hingga 158 desibel,” tulis pengelola akun Instagram milik Polres Kudus, @polreskudus, seperti dikutip dari Solopos.com, Senin (5/2/2018).

Sementara itu, Kasat Sabhara Polres Kudus, AKP Sutopo menjelaskan kendaraan itu dipersiapkan untuk menghadapi massa yang bertindak anarkistis jelang Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018. “Selain gas air mata dan water canon, nantinya kami akan terjunkan Raisa untuk membubarkan demonstran yang anarkis,” ucapnya.

Ia menambahkan suara yang keluar dari speaker Raisa mampu membuat siapa saja yang mendengarnya menutup telinga. Maka dari itu, Sutopo mengharapkan massa akan mengurungkan niatnya bertindak anarkistis dan membubarkan diri setelah mendengar suara dari speaker Raisa.

Pengeras suara yang akan menjadi bagian dari aksi polisi itu diklaim mampu menghasilkan suara yang dapat terdengar dari radius satu kilometer. Selain untuk membubarkan massa, Raisa nantinya juga akan digunakan sebagai alat untuk memberikan imbauan atau pengumuman kepada warga jika terjadi bencana alam.

memiliki mobil baru, yang berfungsi mencegah massa melakukan aksi anarkistis di wilayah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Oleh Polres Kudus, mobil baru itu dinamakan “Raisa” atau “Pengurai Massa”.

Berdasarkan kisah yang dipaparkan Humas Polres Kudus di Instagram dan dilansir Solopos—jaringan Suara.com, Sabtu (3/2/2018), mobil bernama unik layaknya nama penyanyi ternama di Indonesia itu, sebenarnya memiliki nama lengkap Mobile Sound System Pengurai Massa.
Mobil itu, menyita perhatian sejumlah orang kala tampil dalam latihan Sispam Kota Polres Kudis di Sipang Tujuh, Kabupaten Kudus, Sabtu akhir pekan lalu.

Humas Polres Salatiga menjelaskan, mobil Raisa itu memiliki dua pelantang suara yang mampu menghasilkan suara hingga 158 desibel.

“Inilah Raisa [Mobile Sound System Pengurai Massa] yang merupakan mobil dinas terbaru yang dimiliki oleh Polres Kudus dengan kemampuan andalannya terletak pada dua unit speaker-nya yang dapat mengeluarkan suara hingga 158 desibel,” tulis pengelola akun Instagram milik Polres Kudus, @polreskudus.

Dikutip dari laman resmi milik Polres Kudus, Kasat Sabhara Ajun Komisaris Sutopo menjelaskan kendaraan itu dipersiapkan untuk menghadapi massa yang bertindak anarkistis jelang Pilkada 2018.

“Selain gas air mata dan water canon (mobil meriam air), nantinya kami akan terjunkan Raisa untuk membubarkan demonstran yang anarkistis,” ucapnya.

Sutopo menambahkan, suara yang keluar dari pelantang suara Raisa mampu membuat siapa saja yang mendengarnya menutup telinga.

Maka dari itu, Sutopo mengharapkan massa akan mengurungkan niatnya bertindak anarkistis dan membubarkan diri setelah mendengar suara dari speaker Raisa.

Pengeras suara yang akan menjadi bagian dari aksi polisi itu diklaim mampu menghasilkan suara yang dapat terdengar dari radius 1 km.

Selain untuk membubarkan massa, Raisa nantinya juga digunakan sebagai alat untuk memberikan imbauan atau pengumuman kepada warga jika terjadi bencana alam.

Berita ini kali pertama diterbitkan solopos.com dengan judul “Polisi Kudus Kini Punya Raisa, Nyaring Bunyinya buat Uraikan Massa”

 

Sumber :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *