Bule Selandia Dilecehkan Pegawai Hotel Viral

Sumber : google.com

 

Hak konsumen antara lain:

1) Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;

2) Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;

3) Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;

4) Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;

5) Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;

6) Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;

7) Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;

8) Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;

9) Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Kewajiban pelaku usaha adalah:
1) Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya;

2) Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan;

3) Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;

4) Menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku;

5) Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan;

6) Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;

7) Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang dterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.

Namun ada tak semua hak dan kewajiban tersebut berjalan dengan baik. Seperti kasus dibawah ini, yaitu oknum pegawai hotel atau penyedia jasa melakukan hal yang tidak patut kepada konsumen, diduga salah satu konsumen asing atau bule merasa dilecehkan oleh salah satu pegawai di hotel tersebut, berikut informasi mengenai kasus peleceha tersebut,

DENPASAR – Video pengakuan seorang turis wanita asal Selandia Baru yang diduga dilecehkan oleh oknum pegawai hotel tempatnya menginap menuai pro dan kontra. Sebelumnya, video tersebut viral di media sosial dan banjir kecaman warganet. Wanita bernama Aneta Baker itu mengaku dilecehkan secara verbal dan percakapannya dengan terduga pelaku sengaja ia rekam dan di-share di akun facebook-nya.

Yang mengejutkan, sebuah pemilik akun facebook @Ditta Triwidianti justru melontarkan fakta sebaliknya. Dalam postingannya, ia mengklaim bahwa pegawai hotel tidak mengucapkan kalimat bernada melecehkan seperti yang dituduhkan.

Menurut Ditta, yang ia dengar si pegawai hotel berkata mengganti uang refund dengan voucher. Hal itu bahkan dipertegas ketika si pegawai hotel justru rela mengganti uang refund dengan uang milik pribadinya. Inisiatif itu dilakukannya lantaran pihak hotel enggan mengembalikan nominal uang yang diminta Aneta.
Oleh karenanya dirinya mengaku terkejut ketika video itu telah dibagikan berkali-kali dan melihat reaksi warganet yang memuji keberanian bule berambut panjang itu.

“Jangan salah paham, saya 100 persen melawan pelecehan seksual, saya seorang feminis dan saya memahami keadilan media sosial kadang-kadang terjadi dan melakukan pekerjaan yang tepat,” tulis Ditta di akun facebook-nya.

Ia meminta warganet menonton video tersebut secara utuh dan mendengarkan percakapan mereka dengan seksama, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.

“Orang ini melakukan kesalahan dengan booking di hotel yang ia kerjakan, ia ingin mencoba memberikan solusi dengan memberikan voucher, yang kemudian membuat lebih masuk akal untuk seluruh konteks percakapan, bahwa ia melakukan kesalahan. Akan menghabiskan dari saku sendiri daripada memproses melalui hotel, bukan blowjob,” papar Ditta.
“Stop share postingannya Aneta Baker, selain jika ini benar-benar bukan apa maksudnya (BJ dan seksual melecehkan tamu) kirimannya adalah pencemaran nama baik, jika anda mengalami pelecehan seksual laporkan ke manajemen hotel/polisi tidak membuat drama keluar dari sosial media. Dan bisa menjadi salah satu penindasan publik terburuk yang pernah ada,” timpalnya lagi.

Menurutnya, beredarnya video itu telah mengganggu dirinya secara pribadi. Apalagi membayangkan jika pria itu ternyata tidak bersalah sebagaimana yang dituduhkan si bule.

“Keluarganya; orangtua, istri, anak-anak merasa tentang hal ini. Atau bahkan lebih buruk, dia mungkin merasa tertekan/bunuh diri. Jadi tolong, tolong, jadilah cerdas sebelum berbagi atau berkomentar posting seperti ini, pikirkan apa kerusakan yang dapat menyebabkan kehidupan seseorang. Jangan ragu untuk membagikan kiriman ini setiap kali Anda melihat seseorang membagikan kirimannya,” tutup Ditta.

Menanggapi hal ini, Ketua BPPD Badung, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya mengatakan bahwa hal ini merugikan dan berbahaya bagi citra pariwisata.
Ia pun mengatakan hal ini menjadi perhatian serius karena dikhawatirkan bisa menurunkan pariwisata Bali yang saat ini sedang terpuruk.

“Justru kami sedang menggenjot kedatangan wisman, pemecatan karyawan sudah pasti, tidak bisa ditolerir, itu kurang sopan,” ujarnya ketika diwawancarai Tribun Bali, Senin (5/2/2018)

Suryawijaya pun menegaskan meskipun pihak yang bersangkutan tidak masuk dalam keanggotaan asosiasi yang dipimpimpinnya hal tersebut tidaklah masalah karena pihaknya mempunyai hak.

Ia pun menegaskan bahwa hal tersebut harus dilakukan agar ada efek jera dan memberikan rasa aman.

Dari keterangan yang ia tuliskan, masalah berawal ketika ada kesalahpahaman antara pihak suatu hotel di Bali dan Anita serta teman-teman yang menginap dengannya.

Hal itu membuatnya harus membayar lebih, sehingga ia meminta pengembalian uang (refund).

Namun, pegawai hotel yang berbicara padanya menyebutkan bahwa hal tersebut sulit untuk diproses.

Pria itu pun menawarkan uang dari dirinya pribadi dan mengatakan bahwa pihak hotel tidak akan mengembalikan uang Aneta.

Rupanya tawaran tersebut diberikan dengan tawaran yang lain, diduga seks oral untuk memuaskan pegawai hotel tersebut.

Respon yang Aneta berikan pun tampaknya tidak sesuai dengan harapan pria mesum tersebut.

“Menurutku kamu seharusnya sama sekali tidak menawarkan hal tersebut. Satu, itu tak etis. Dua, tak profesional. Tiga, aku sudah bilang bahwa aku sudah menikah,” kata Aneta.

Aneta juga menyatakan bahwa tawaran tersebut membuatnya merasa dilecehkan dan ingin menampar si pegawai hotel, meski tak ia lakukan.

“Sungguh menggelikan. Aku merasa dilecehkan walaupun kamu cuma menawarkan,” ujar Aneta.

“Aku ingin menamparmu, meneriakimu,” tambahnya.

Usut punya usut, sosok Aneta Baker ternyata bukan wanita sembarangan. Aneta Baker adalah pendiri dan owner dari She is Called.org.

Sebuah situs website yang bergerak menyuarakan kemajuan dan kebebasan kaum perempuan di negaranya.

Selain aktif didunia aktivis perempuan, bahkan wanita yang statusnya telah menikah dan dikaruniai beberapa anak ini, juga aktif dalam dunia menulis.

Pelayanan yang baik akan sangat berpengaruh terhadap konsumen, begitu juga sebaliknya jika pelayanan yang kurang baik dirasakan oleh konsumen, dengan otomatis konsumen tersebut akan merasa terganggu dan enggan menerima jasa dari suatu penyedia.

Sumber :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *