Cemburu Kepada Suami, Bolehkah dalam Islam? Yuk Simak Artikel Berikut Ini…

Sumber : google.com

Cemburu merupakan perasaan yang melekat pada orang yang sedang mencinta. Bisa diketahui bahwa, hilangnya cinta pada seseorang bisa ditandai dengan tidak adanya rasa cemburu kepada pasangannya. Sehingga banyak yang menyatakan, ‘cemburu sebagai tanda cinta‘. Dan hal itu memang benar.

Cemburu itu bagai pisau bermata dua, bisa membuat rumah tangga menjadi harmonis dan bisa pula melukai dan merusak hubungan rumah tangga. Oleh karena itu kita harus berhati-hati kepada cemburu dan menggunakannya dengan sebijak mungkin, agar tidak melukai.

Banyak suami atau istri tidak bisa mengendalikan rasa cemburunya sehingga membuat keadaan rumah tangga menjadi tidak bahagia. Banyak pula yang tidak tahu menempatkan dengan baik rasa cemburu itu, sehingga bisa berujung kepada cemburu buta.

Bagaimana cemburu dalam Islam itu?

Menurut al Raghib, cemburu adalah luapan kemarahan yang disebabkan oleh keinginan menjaga kehormatan yang ditunjukkan kepada pasangannya. Kecemburuan merupakan bentuk dari upaya untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara kedua pasangan.
Cemburu yang dibenarkan dalam Islam adalah cemburu suami pada istrinya atau sebaliknya, bahkan ini sesuatu yang sangat dianjurkan. Simak sabda Rasulullah SAW berikut:

Tiga golongan yang tidak akan masuk syurga dan Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang menyerupai pria dan dayuts (suami yang tidak memiliki rasa cemburu kepada istrinya).” (HR. Nasa’i, Hakim, Baihaqi dan Ahmad).

Pada jaman Rasulullah juga sudah terjadi kecemburuan seorang istri pada suaminya, tak terkecuali dengan kehidupan rumah tangga Nabi. Dari Anas bin Malik RA, ia menceritakan bahwa Nabi SAW pernah berada di sisi salah seorang istrinya, kemudian seseorang dari mereka mengirimkan satu mangkuk makanan. Lalu, istri Nabi yang berada di rumahnya memukul tangan Rasulullah sehingga mangkuk itu jatuh dan pecah. Maka, Nabi pun mengambil dan mengumpulkan makanan di dalamnya. Beliau berkata kepada salah satu anaknya, “ibumu cemburu, makanlah.” (HR Bukhari, Ahmad, Nasai, dan Ibn Majah)

Riwayat di atas mengisahkan bahwa bahwa rasa cemburu juga menyerang istri Rasulullah, dan Beliau tidak melarang dan menegur istrinya tersebut.
Sebuah riawayat dari Amar bin Yasir juga menegaskan pentingnya keberadaan rasa cemburu dari seorang istri. Bahkan, mereka yang tidak memiliki rasa cemburu sama sekali dan bersikap dingin terhadap apapun yang berlaku atas suaminya diancam tidak masuk surga.

Namun demikian, kecemburuan yang diperbolehkan tidak berlaku mutlak. Artinya, cemburu itu harus bersifat seimbang dan sewajarnya. Tidak boleh berlebihan. Kecemburuan bisa menjadi sesuatu yang positif jika tidak melampaui batas dan tidak dibarengi dengan prasangka buruk yang berlebihan.

Ibu al Qayyim berpesan agar istri mampu menahan rasa cemburu yang berlebihan itu. Menurutnya, kecemburuan yang datang dari pihak istri terkadang sulit terkontrol. Alangkah lebih baiknya jika para istri harus menempa diri agar tidak dikuasai oleh emosi. Ia menjabarkan tafsir ayat ke-25 dari Surah Al-Baqarah “Dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci”. Makna kara suci dalam ayat tersebut mencakup pula bersihnya hati mereka dari rasa cemburu dan tidak menyakiti suaminya.

Ali bin Abu Thalib pernah mengatakan, “Janganlah kalian keseringan cemburu terhadap pasanganmu karena justru keburukan akan mendatangimu.” Hal senada juga diungkapkan oleh Ibnu Arabi “Sungguh, kami adalah para pencemburu Allah. Dan berhati-hatilah kamu semua terhadap kecemburuan hewani, jangan sampai dia menghasut dan menjebakmu” katanya.

Beberapa cara mengatasi cemburu dalam Islam, diantaranya:

1. Lihat Landasan cemburu, Alasan Syar’i kah atau Sekedar Mengada-ada?
Inilah tips pertama jika anda dilanda rasa cemburu. Perhatikan dengan seksama, apakah cemburu yang timbul betul karena alasan yang sesuai dengan Islam atau cemburu yang hanya diada-adakan?

Contohnya, anda merasa cemburu kepada pasangan anda karena ia lebih perhatian kepada orang tuanya atau saudara-saudaranya dibandingkan dengan perhatiannya ia kepada anda. Lantas karena itu, suami atau istri dicegah untuk memberi kepada mertua atau saudara pasangan.

Jenis cemburu seperti ini merupakan cemburu yang dibuat-buat atau diada-adakan. Karena tidak ada salahnya jika pasangan juga memperhatikan ibu, mertua atau saudaranya saat ia menikah.

Contoh bentuk cemburu yang dibolehkan kepada pasangan saat ia misalnya menerima telpon secara sembunyi-sembunyi. Seakan menghindar atau menyembunyikan pesan pribadi atau malah memproteksi pesannya, atau penampilannya berubah saat bertemu dengan seseorang.

2. Tetap Tenang, Berpikirlah Jernih
Cemburu pada pasangan bisa menyulut emosi kita sehingga hal itu menutupi akal pikiran kita untuk berpikir jernih.

Berpikir jernih sangat dibutuhkan disaat ingin menyelesaikan masalah. Apalagi jika hal yang dicemburui belum terbukti kebenarannya. Tersulut api cemburu tanpa melakukan klarifikasi dan duduk persoalan yang ada bisa menimbulkan dendam, panas di hati dan membuat anda marah. Dan pada akhirnya anda tidak mau mendengar alasan dari pasangan anda.

Pada ujungnya, persoalan tidak bisa diselesaikan karena hanya mengedepankan ego dan emosi semata. Maka disaat, anda cemburu pada pasangan tetaplah tenang dan berpikir jernih dahulu.

Untuk melatih diri agar bisa berpikir jernih dan berpikir positif kepada pasangan, awali dengan dzikir meningat kepada Allah. Insya Allah dzikir mengingat kepada Allah akan membuat hati dan pikiran anda menjadi tenang dan bisa berpikir dengan jernih.

3. Ingat Provokasi Setan
Rumah tangga yang harmonis merupakan sesuatu yang tidak disukai oleh setan. Mereka tidak akan suka dengan hubungan suami dan istri dalam rumah tangga yang bahagia.

Perlu diingat bahwa salah satu cara setan dalam merusak rumah tangga adalah dengan memprovokasi atau menggoda manusia untuk cemburu buta.

Setan sangat lihai dalam hal ini, bahkan di Alquran dikisahkan bahwa pada masa Nabi Sulaiman AS, sihir yang banyak pada waktu itu adalah sihir yang dipelajari untuk memisahkan pasangan suami istri.

Jika rasa cemburu menghampiri hati anda, maka sadarlah bahwa ia bagian dari provokasi setan. Mintalah perlindungan kepada Allah SWT untuk bisa melawan dan mencegah godaan setan tersebut.

4. Jangan Fokus pada Kekurangan Pasangan
Ini juga menjadi pintu masuknya cemburu diantara pasangan suami istri, yakni mereka hanya terfokus pada kekurangan pasangan. Sehingga mereka juga ingin seperti pasangan lain.

Begitu pula kebiasaan menyebut kelebihan orang lain dihadapan pasangan, semisal istri menyampaikan kekaguman atau pujian berlebih terhadap laki-laki lain. Hal ini walaupun kelihatannya baik, namun pada kenyataannya pria tidak suka hal tersebut. Karena ia merasa disaingi oleh yang lain atau ia merasa tidak mampu untuk melakukan hal itu.

5. Kembangkan Sikap Percaya Diri
Percaya diri merupakan sikap yang perlu dikembangkan dalam hidup berumah tangga untuk menghalau rasa cemburu. Percayalah bahwa anda layak untuk dicintai pasangan anda. Dengan sikap demikian, maka anda akan semakin optimis.

Rasa optimis yang tinggi akan memudahkan anda untuk menyayangi pasangan anda. Berhias dengan hiasan dan dandanan terbaik di hadapan pasangan anda. Dan pada akhirnya, ini juga menumbuhkan sikap saling percaya kepada pasangan anda.

Hubungan saling percaya satu sama lain antar pasangan akan meredahkan sifat cemburu yang timbul.

6. Terbuka untuk Menyatakan Kecemburuan
Menyatakan kecemburuan dihadapan pasangan merupakan salah satu obat cemburu. Hendaknya saat menyampaikan rasa cemburu kepada pasangan dilakukan disaat anda sedang tidak dikuasi emosi atau ego.

Ungkapkan kepada pasangan dengan anda dengan komunikasi yang baik. Keterbukaan dan saling komunikasi adalah kunci cara menghilangkan rasa cemburu.

Sumber :
– Republika
– Bicarawanita
– Candradewojati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *