Kajian Surat Al – Fatihah

Para pembaca yang dirahmati Allah suhanahu wata’ala, setiap hari umat Islam menjalankan ritual shalat yang merupakan salah satu bentuk peribadahan kepada Allah suhanahu wata’ala. Setiap kita melaksanakan shalat, kita diperintah untuk membaca surat Al Fatihah sebagai salah satu rukun shalat. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَصَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al Fatihah)”. (HR. Abu Dawud no. 297 dan At Tirmidzi no. 230 dari shahabat Abu Hurairah dan ‘Aisyah)
Surat ini termasuk deretan surat Makkiyah (yang turun sebelum hijrah) dan terdiri dari tujuh ayat.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

غَيْرِالْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ (7

Artinya

  1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
  2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,
  3. Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
  4. Yang menguasai hari pembalasan.
  5. Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan
  6. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus,
  7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Penjelasan Surat Al-Fatihah 

Penjelasan Umum

Surat ini dinamakan Al-Fatihah karena merupakan surat yang membuka atau mengawali Al-Qur’an, dan sebagai bacaan yang mengawali dibacanya surah lain dalam shalat.

Surat Al-Fatihah dinamakan juga Ummul Kitab (induk Al-Kitab/Al-Quran), karena di dalamnya mengandung seluruh tema pokok dalam Al-Quran, yaitu tema pujian kepada Allah yang memang berhak untuk mendapatkan pujian, tema ibadah dalam bentuk perintah maupun larangan, serta tema ancaman dan janji tentang hari kiamat. Dengan kata lain, Al-Fatihah mencakup ajaran-ajaran pokok Islam, yaitu tentang tauhidullah, kepercayaan terhadap Hari Kiamat, cara beribadah, dan petunjuk menjalani hidup.

Surat Al-Fatihah dinamakan juga As-Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang), karena surat ini selalu dibaca dalam setiap rakaat shalat fardhu maupun shalat sunah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda :

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ يَقْرَأُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَاب

Artinya : “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Surah Al-Fatihah”. (H.R. Ibnu Hibban).

عَنْ أَبِي سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى قَالَ كُنْتُ أُصَلِّي فَدَعَانِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أُجِبْهُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أُصَلِّي قَالَ أَلَمْ يَقُلْ اللَّهُ {اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ} ثُمَّ قَالَ أَلَا أُعَلِّمُكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ الْمَسْجِدِ فَأَخَذَ بِيَدِي فَلَمَّا أَرَدْنَا أَنْ نَخْرُجَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ قُلْتَ لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ مِنْ الْقُرْآنِ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ.

Artinya : Dari Abu Sa’id bin Al-Mu’alla, ia berkata, Saya sedang shalat, lantas Nabi Shallalalhu ‘AlaihiWasallam memanggilku, dan aku tidak menyahut panggilan beliau. (Usai shalat), aku pun menemui beliau dan berkata, “Ya, Rasulullah, saya sedang shalat.” Beliau lalu bersabda, “Bukankan Allah berfirman: [ Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (QS. Al-Anfal: 24)?”] Kemudian, beliau kembali bersabda, “Maukah kau kuajari sebuah surat yang paling agung dalam Al Quran sebelum kamu keluar dari masjid nanti?” Maka beliau pun berjalan sembari menggandeng tanganku. Tatkala kami sudah hampir keluar masjid, aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, Anda tadi telah bersabda, ‘Aku akan mengajarimu sebuah surat paling agung dalam Al Quran?’” Maka beliau bersabda, “(Surat itu adalah) Alhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin (surat Al-Fatihah), itulah As-Sab’ul Matsaani (tujuh ayat yang sering diulang-ulang dalam shalat) serta Al-Qur’anul-‘Adzim yang dikaruniakan kepadaku.”

Berdialog dengan Allah melalui Surat Al-Fatihah

Apabila kita membaca Surat Al-Fatihah di dalam shalat, maka seyogyanya kita membacanya dengan tartil (tertib, perlahan-lahan). Sebab, ada jeda antara satu ayat ke ayat lain yang dipergunakan Allah untuk menjawab bacaan kita. Sehingga terjadi dialog dengan Allah melalaui bacaan Surat Al-Fatihah tersebut. Subhaanallaah.

Selama ini kita membacanya kadang (sering?) dengan bercepat-cepat ingin segera selesai shalatnya tanpa penghayatan dan tanpa kesempatan untuk berdialog dengan Dzat yang Maha Kuasa. Di dalam sebuah hadits disebutkan :

رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ:{ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ:{ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ:{ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ } قَالَ اللَّهُ: مَجَّدَنِي عَبْدِي، فَإِذَا قَالَ:{ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ:{ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ } قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

Artinya : “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Dan bagi hamba-Ku apa yang dia mohonkan,

maka ketika hambaku berkata  الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (Segala Puji Hanya Bagi Allah, Tuhan semesta alam) Allah ‘azza wa jalla berfirman, حَمِدَنِي عَبْدِي (Hambaku telah memuji-Ku),

dan ketika seorang hamba berkata,الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  (Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) Allah ‘azza wa jalla berfirman, أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي  (Hambaku telah memujiku),

dan ketika seorang mengucapkan, مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ  (Yang Menguasai di Hari Pembalasan), Allah berfirman,   مَجَّدَنِي عَبْدِي  (Hambaku telah memuliakan Aku).

dan ketika seseorang berkata, إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ  (Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan), Allah SWT berfirman,  هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ  (ini adalah bagian-Ku dan bagian hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya).

dan saat berkata, اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ  (Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. ), Allah  berfirman,  هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ   (Ini adalah bagi hambaku, dan bagi hambaku apa yang dia pinta).    (HR Muslim).

Penjelasan Ayat Demi Ayat 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Artinya : “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”

Kalimat ini disebut “basmalah” bermakna bahwa kita memulai bacaan ini seraya memohon berkah dengan menyebut seluruh nama Allah.

Ayat pertama ini menegaskan pentingnya penyebutan atau pengakuan manusia atas ke-Maha Pemurah-an Allah dan ke-Maha Penyayang-an-Nya. Ayat ini bukan sekedar mengajarkan ‘penyebutan’ atas nama Allah, melainkan pernyataan atas kebesaran-Nya, yang pada ayat itu direpresentasikan melalui lafadz  ar-rahmaan dan ar-rahiim.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya : “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”

Ayat ini merupakan pujian kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena Allah memiliki semua sifat kesempurnaan dan karena Allah telah memberikan berbagai kenikmatan, baik lahir maupun batin, baik bersifat keagamaan maupun keduniawian, kepada hamba-hamba-Nya. Hanya Allah-lah satu-satunya yang berhak atas pujian, sebab Allah-lah yang menciptakan seluruh makhluk dan alam semesta. Allah pulalah yang mengurus segala persoalan makhluk-Nya.

Ibnu Jarir menjelaskan bahwa alhamdulillah, merupakan syukur yang ikhlas hanya kepada Allah tidak kepada lain-lain-Nya dari makhluk-Nya. Syukur itu karena nikmat-Nya yang diberikan kepada hamba dan makhluk-Nya yang tidak dapat dihitung dan tidak terbatas. Di samping juga karena rezeki yang Allah berikan kepada semua makhluk-Nya, dari kalangan manusia, jin dan binatang dari berbagai perlengkapan hidup. Karena itulah maka pujian itu sejak awal hingga akhirnya tetap pada Allah semata-mata.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا كَانَ الَّذِي أَعْطَاهُ أَفْضَلَ مِمَّا أَخَذَ

Artinya : “Tiadalah Allah memberi nikmat kepada seorang hamba-Nya, kemudian hamba itu mengucap ‘alhamdulillah’, melainkan apa yang diberi itu lebih utama dari yang ia terima.” (HR Ibnu Majah dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu).

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ كُلُّهُ وَلَكَ الْمُلْكُ كُلُّهُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ كُلُّهُ إِلَيْكَ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ

Artinya : “Ya Allah bagi-Mu segala puji semuanya, dan bagi-Mu kerajaan semuanya dan di tangan-Mu kebaikan semuanya, dan kepada-Mu kembali segala urusan semuanya”. (HR Ahmad dari Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu ‘Anhu).

Robbil ‘alamin (Tuhan semesta Alam), berarti Allah adalah pemilik yang berhak penuh, juga berarti majikan, yang memelihara serta menjamin kebaikan dan perbaikan semua makhluk alam semesta. Allah adalah Rabb dari semua alam itu sebagai pencipta yang mcmelihara, yang memperbaiki dan yang menjamin semuanya. Seperti tercantum di dalam Al-Quran :

قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ ( ) قَالَ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ ( )

Artinya : “Fir`aun bertanya: “Siapa Tuhan semesta alam itu? Musa menjawab: “Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya. (Itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya”. (QS Asy-Syu’ara / 26 : 23-24).

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Artinya : “Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Para ulama membedakan antara makna Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim. Ar-Rahmaan merupakan sifat kasih sayang Allah yang memberikan kenikmatan umum kepada seluruh makhluk-Nya. SedangkanAr-Rahiim adalah sifat kasih sayang-Nya yang memberikan kenikmatan secara khusus untuk orang-orang mukmin saja.

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Artinya : “Yang menguasai hari Pembalasan”.

Menurut Qatadah, kata ad-din berarti pembalasan. Dalam hal ini, pembalasan berlaku atas semua kebaikan dan keburukan. Menurut pendapat lain, kata ad-din berarti ketha’atan. Dengan demikian,yaum ad-din berarti hari ketha’atan. Sebab pada saat itu, hanya ketha’atan hamba kepada Allah yang menyelamatkannya dari siksaan neraka.

Pada ayat lain Allah berfirman :

الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ لِلرَّحْمَنِ وَكَانَ يَوْمًا عَلَى الْكَافِرِينَ عَسِيرًا

Artinya : “Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan adalah (hari itu), satu hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang kafir.” (QS Al-Furqan / 25 : 26).

Kepercayaan terhadap adanya hari kiamat, hari akhir, atau hari pembalasan, atau yaum ad-diin, merupakan sesuatu yang sangat fundamental dalam Islam. Syaikh Sayyid Qutb dalam tafsir Fi Dzilaal Al-Qur’an, menjelaskan, kehidupan masyarakat yang berpedoman dengan metode Allah yang tinggi tidak akan terwujud selama kepercayaan terhadap hari kiamat tidak ada dalam diri mereka, selama hati mereka belum betul-betul menyadari bahwa apa yang mereka dapatkan di dunia bukanlah akhir dari yang mereka dapatkan.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya : “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”

Allah membatasi penyembahan atau ibadah hanya kepada Diri-Nya semata. Dengan ayat tersebut, kita pun harus memutuskan bahwa ibadah hanyalah satu-satunya kepada Allah. Tidak boleh ibadah tersebut dikait-kaitkan dengan selain Allah. Ibadah juga merupakan bentuk ketundukan, kepasrahan, dan ketha’atan manusia kepada Allah untuk mengikuti berbagai perintah dan larangan-Nya.

Shalat merupakan bentuk ibadah yang paling dasar (asasi). Dalam hal ini, sujud merupakan bentuk ketundukan yang paling tinggi kepada Allah. Hal ini karena dalam bersujud, orang menundukkan wajahnya yang notabene merupakan bagian tubuh yang paling dimuliakan. Saat bersujud, orang menempelkan wajahnya di atas lantai yang notabene merupakan tempat yang biasa diinjak-injak oleh kaki.

Setelah menyebutkan “Hanya Engkaulah yag kami sembah”, Allah lantas menyebutkan “Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”. Hal ini menunjukkan pengertian bahwa kami tidak menyembah kepada selain Diri-Mu, dan kami tidak meminta pertolongan kecuali kepada Diri-Mu. Permintaan tolong hanya kepada Allah akan menghindarkan kita dari hinanya kehidupan dunia.

Saat kita meminta tolong kepada selain Allah, misalnya manusia, maka kita sebenarnya meminta pertolongan kepada makhluk yang memiliki berbagai keterbatasan. Manusia bisa saja memberikan pertolongan kepada orang lain sesuai kemampuan dan kekuatannya. Manusia yang saat ini mampu dan kuat boleh jadi dalam sekejap bisa menjadi orang yang sangat lemah dan tidak memiliki kemampuan apapun.

Allah bermaksud meminta orang-orang beriman agar hanya meminta pertolongan kepada Diri-Nya yang Maha Hidup dan tak pernah mati, Maha Kuat dan tak pernah lemah, Maha Kuasa dan tak bisa dikuasai oleh apapun serta siapapun. Jika kita betul-betul meminta pertolongan kepada Allah, Dia pun akan menyertai kita. Dia akan memberikan kekuatan saat kita lemah. Dia akan memberi petunjuk saat kita kebingungan memilih antara kebenaran dan kebathilan.

Ditempatkannya kalimat “permintaan tolong” (نَسْتَعِينُ) setelah kalimat “penyembahan” (نَعْبُدُ) juga merupakan bentuk pengajaran Allah kepada manusia tentang akhlak. Allah memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya terlebih dahulu. Setelah kita beribadah kepada-Nya, barulah kita pantas untuk meminta pertolongan kepada-Nya. Dengan kata lain, sudah selayaknya, orang meminta sesuatu setelah ia terlebih dahulu mengerjakan apa yang diperintahkan. Sangat tidak pantas jika seseorang meminta segala sesuatu terlebih dahulu padahal ia belum melaksanakan apa yang diperintahkan.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Artinya : “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus”

Menurut Ibnu Abbas, kata “tunjukkanlah kami” (اهْدِنَا) berarti “berilah kami ilham.” Sedangkan “jalan yang lurus” (الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ) berarti kitab Allah, agama Islam, kebenaran.

Kataاهْدِنَا  berasal dari akar kata hidayah (هداية). Hidayah berarti petunjuk kepada kebaikan. Hidayah tersebut diberikan Allah kepada hamba-Nya secara berurutan.

Hidayah berupa kekuatan dasar yang dimiliki manusia, seperti pancaindra dan kekuatan berpikir. Dengan kekuatan inilah, manusia bisa memperoleh petunjuk untuk mengetahui kebaikan dan keburukan. Hidayah melalui diutusnya para Nabi kepada manusia, sehingga jiwa kita tergerak untuk mengikutinya. Itu juga hidayah. Hidayah yang diberikan oleh Allah kepada para hamba-Nya dengan adanya gemar berbuat baik (amal sholih). Itupun  hidayah.

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Artinya : “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

Jalan lurus itu adalah jalan orang-orang yang telah Allah beri anugerahkan nikmat kepada mereka dengan hidayah Islam, sampai mereka mati tetap dalam keadaan Islam. Inilah jalan yang lurus itu, yaitu jalan yang dahulu pernah dilalui oleh orang-orang yang mendapat ridha dan nikmat dari Allah, dari kalangan Nabi utusan Allah, orang-orang yang benar, para syuhada, dan orang-orang sholih. Sebagaimana firman Allah :

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا ( )  ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا  ( )

Artinya : “Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.” (QS An-Nisa / 4 : 69-70).

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu menjelaskan lagi, “Jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah kepada mereka sehingga dapat menjalankan tha’at ibadah serta istiqamah seperti para Malaikat, para Nabi utusan Allah, orang-orang yang benar, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholih.

Maksud “bukan jalan mereka yang dimurkai” (غير المغضوب عليهم) adalah jalan yang ditempuh oleh orang-orang Yahudi. Mereka dimurkai oleh Allah dan mendapatkan kehinaan karena melakukan berbagai kemaksiatan. Mereka adalah orang orang yang mengetahui kebenaran tetapi menyimpang dari agama yang dianut, sehingga mereka dimurkai Allah.

Sedangkan “orang-orang yang sesat” (الضالين) adalah orang-orang Nasrani.  Mereka itu adalah orang orang yang lalai dari kebenaran dan sesat atau mereka yang mencari kebenaran tetapi tidak menemukan kebenaran itu alias tersesat dari petunjuk Allah.

 

Sumber :

  • http://www.darussalaf.or.id
  • http://www.mirajnews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *