Kamu Yang Pernah Patah, Mungkin Benar Terluka. Tapi Dari Situlah Kamu Akan Lebih Bijak Dari Sebelumnya

Sumber : google.com

Pengalaman patah hati karena mencintai orang yang salah dengan cara yang salah mungkin adalah suatu hal yang sangat menyiksa batin, dan mungkin luka yang tertoreh akan sangat membekas.

Tetapi, dari situlah kamu akan lebih bijaksana lagi dari sebelumnya, kamu akan lebih berhati-hati menjaga hati, dan pastinya kamu akan belajar bagaimana caranya tidak akan lagi hanyut dalam gombalan laki-laki yang tidak pasti.

Lukamu Sebenarnya Hanya Jalan Dari Allah, Agar Kamu Lebih Kuat Lagi Menjaga Hati
Jadi untuk saat ini, bila kamu masih dalam suasana yang sangat tidak mengenakkan sebab patah hati, atau masih belum move on dari sakit hati dimasa lalu, sadarlah! Semua itu Allah tulis agar kamu lebih kaut lagi menjaga pertahanan hatimu.

Perih Hatimu Tidak Usah Kamu Sesali, Karena Dari Perih Itulah Kamu Belajar Untuk Tidak Sembarangan Lagi Memberikan Hati
Lantas, tidka usah kamu terus-terusan menaruh dendam, kebencian, dan doa-doa buruk kepada yang membuat hatimu perih.

Karena perih hatimu harusnya tidak usah kamu sesali, sebab bagaimanapun ia mengajarkanmu untuk tidak sembarangan lagi memberikan hati pada siapapun dimasa yang akan datang.

Sakit Hatimu Jangan Kamu Jadikan Bahan Eluhan, Karena Dari Situlah Kamu Akan Belajar Bahwa Berharap Pada Manusia Itu Hal Yang Salah
Sakit sungguh sangatlah sakit, mungkin itulah pembelaanmu karena masih saja terngiang perlakuan kejamnya. Tetapi sakit hati itulah yang pada akhirnya akan mengajarkanmu untuk ikhlas memaafkan.

Maka tidak usah kamu mengeluhkannya, karena seperti appaun sakitnya dari situlah kamu akan belajar bahwa berharap pada manusia itu adalah hal yang salah.

Jerit Hatimu Mungkin Sangat Meyiksa Batin, Tapi Dari Situlah Kamu Akan Sadar Bahwa Secinta Apapun Terhadap Manusia Jangan Pernah Lupakan Allah
Dan mungkin jerit hatimu sangat menyiksa batin, tetapi sadarilah dengan bijak bahwa dari situlah sesungguhnya kamu akan tahu bahwa secinta apapun kamu terhadap manusia, maka sangatlah tidak pantas jika kamu tidak melibatkan Allah dalam setiap halnya.

Karena Hatimu Patah Dan Terluka Itu Sebab Kamu Lupa Untuk Melibatkan Allah Dalam Rasa Yang Kian Tumbuh
Karena hatimu yang patah, lukamu yang perih, itu semua terjadi sebab kamu lupa untuk melibatkan Allah dalam rasa yang kian tumbuh. Kamu lancang melupakan Allah, sehingga berharapmu kepadanya lebih banyak daripada berharap kepada-Nya.

Sehingga, pantas saja jika kamu megalami patah yang sangat, dan luka yang besar didalam hatimu. Tapi, jangan pernah disesali ataupun dieluhkan, karena dari situlah kamu akan banyak belajar hakekat mencintai yang sungguhnya.

Mungkin banyak yang begitu lemes, lesu, dan tak bersemangat ketika Allah swt memberikan cobaan hidup atau ujian kepada kita. Cobaan dan ujian yang datang beruntun pada diri kita terasa begitu berat dan mencoba untuk lari dari hidup ini, tapi entah kemana larinya?. Dan bahkan sampai menyalahkan sang khalik atas cobaan, terpaan dan ujian hidup atas hidup kita ini.

Hadirnya cobaan, terpaan dan ujian hidup hendaklah pandai diri kita dalam menyikapinya, pandai dalam mengambil sisi positif dari segala tantangan hidup ini. Karena sesungguhnya apa yang terjadi dalam diri kita. Itu adalah tempaan agar kita menjadi lebih tangguh dan melatih kesabaran kita.

Memang terlalu mudah sekali untuk mengatakan kata “sabar” saya dan siapapun pasti mudah mengucapkan kata ini, tapi pada kenyataannya dan faktanya “sabar” itu tak semudah pengucapannya, kita butuh latihan, kita butuh juga cobaan hidup dari allah, ujian hidup dari allah, jika kita dapat melewatinya, mungkin menurut saya barulah kita dapat di katakan sabar.

Kenapa harus seperti ini?, karena sesunggunya sobat, menurut saya pribadi atau juga menurut sobat, beruntunglah jika Allah memberikan ujian atau cobaan lebih banyak kepada kita. Sebab kita akan lebih banyak kesempatan untuk naik kelas dan kesempatan untuk lebih pintar dalam menyikapi segala sesuatu. Jika ada murid yang hendak naik kelas bukankah ia harus ujian dulu dan tinggi atau rendahnya tingkatan kelas tergantung dari kesulitan ujian yang di hadapi? ya kan?.

Tapi yang jelas. Allah tidak akan membiarkan kita mengatakan bahwa kita sudah beriman, sebelum Allah memberikan cobaan dan ujian kepada kita. Dan hanya orang beriman pulalah yang akan mendapat kebaikan kelak oleh Allah swt. Jika ia pandai besyukur dan mampu bersabar.

Jika kita memandang cobaan hidup dan ujian hidup sebagai bentuk pengontrolan diri kita, maka insyaallah, Allah akan memberikan jaminan kualitas diri yang lebih mumpuni, mantap dan tangguh dari pada memilih untuk melarikan diri dari cobaan dan ujian hidup ini. Melarikan diri sama saja membuang kesempatan untuk naik kelas ketingkat yang lebih berkualitas, selain itu. jikapun kita dapat melarikan diri dari cobaan dan ujian hidup ini, tetap saja kita akan berjumpa dengan cobaan dan ujian-ujian yang lainya dan dengan tingkat yang sama atau bahkan lebih parah lagi, kita tetap naik kelas tapi tidak mampu mengikuti ujian yang sama dengan orang yang lainnya atau bahasa lainya adalah frustasi yang berakibat bunuh diri. Dan ini banyak dilakukan oleh sebagian orang-orang yang frustasi saat ini.

Kita mestilah tahu, sebenarnya Allah sayang kepada kita. Kita janganlah terlalu mengambil beban atas cobaan dan ujian hidup yang kita hadapi. Allah sangat teliti dalam meletakkan beban ujian di pundak kita. Allah tidak akan memberikan beban yang berlebihan kepada kita jika kita tidak mampu untuk menghadapinya. Jika ada cobaan hidup dan ujian hidup yang kita dapati terasa berat, itu karena allah mengangap kita kuat, kita ambil sisi poitifnya saja dan kita mestilah mesyukurinya saja, “barang siapa yang besyukur akan kutambah nikmatku kepadamu” kalau tidak salah (QS Ibrahim (14) : 7).

Kenapa allah memilih kita untuk mendapatkan cobaan dan ujian hidup yang berat? karena Allah tahu bahwa yang akan diberikan cobaan dan ujian ini, dia dapat mengangkatnya. Dia kuat menurut allah dan pasti allah akan memberikan ganjaran yagn setimpal suatu saat nanti. Maka seharusnya kita beruntunglah dan bersyukurlah atas apa yang kita dapati ini.

Jika terlintas pikiran-pikiran pada diri kita ” kenapa Allah aku saja yang kau berikan cobaan dan ujian seperti ini” yang lain tidak kau berikan seperti saya, tidak adil ini namanya allah. Yang lain tidak kau berikan lebih berat dari pada saya, hidupnya tidak seperti saya, mengapa harus saya menghadapinya?. Maka cepat-cepatlah kita lenayapkan pikiran negatif kita ini. Sesungguhnya beruntunglah-beruntunglah Allah memilih kita, sebab allah tahu, kitalah yang sanggup untuk memikulnya, kita punya kadar kesanggupan untuk melewatinya.

Sekali lagi,, Ayoo kita taklukan cobaan dan ujian hidup yang kita hadapi pada diri kita, insyaallah pasti ada hikmah pada setiap kejadian yang kita alami pada hidup ini, pasti ada sisi positif pada setiap cobaan yang kita hadapi ini. Teruslah bersemangat sobat hadapi tantangan ini, hidup adalah untuk menikmati semua yang di inginkan, maka bersyukurlah dan nikmatilah.

Dalam mengarungi samudera kehidupan, kita banyak menghadapi berbagai ujian dan cobaan yang silih berganti mewarnai kehidupan kita, bahkan belum selesai masalah yang satu muncul lagi masalah yang lain begitu seterusnya, baik cobaan biologis maupun ekonomi dimana semua itu merupakan seni kehidupan insan manusia. Sesungguhnya kehidupan dunia ini adalah negeri ujian, dimana setiap insan tidak dapat lari dari ujian, adakalahnya berupa eksternal yaitu langsung yang menimpa diri kita sendiri, namun adakalanya juga berupa internal yaitu menimpah keluarga kita.

Sebenarnya, siapapun tidak menginginkan terjadinya ujian dalam kehidupan kita, namun pada kenyataannya tidak ada yang bisa menghindarinya, sehingga sering membuat terpeleset berburuk sangka kepada Allah SWT dan menganggap Allah SWT kejam. Padahal, ujian yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya, setaraf pada hamba-Nya sesuai dengan kesanggupan masing-masing, sebagaimana firman Allah SWT “Allah tidak memberikan kesulitan kepada seseorang hamba melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. [Al-Baqarah/2: 286].

Ujian yang hebat, hanya untuk orang yang hebat pula, semua nabi, sahabat-sahabat nabi, dan ulama-ulama mereka mendapatkan ujian yang hebat, nabi Ibrahim dibakar, nabi Ayyub yang dimusnahkan seluruh harta kekayaannya dan keturunannya serta terserang penyakit menular yang sangat menjijikan sehingga tak seorangpun kaumnya yang mau mendekat kepadanya. Begitu juga para keluarga sahabat nabi dibunuh. Apabila dibandingkan dengan kita selaku orang awam, jauh lebih hebat ujian mereka daripada kita kerana mereka memiliki iman yang kuat dibandingkan dengan kita manusia biasa yang memiliki iman hanya setebal kulit bawang.

Percayalah bahwa habis gelap terbitlah terang, Allah SWT menyembinyikan matahari, lalu menghadirkan petir dan hujan mambuat kita bersedih padahal sesungguhnya sesudah itu Allah SWT ganti dengan pelangi yang indah. Besarnya ujian, sesungguhnya berbanding lurus dengan keimanan seseorang, setiap orang mempunyai ujian yang berbeda sesuai kapasitasnya,. Terlepas dari setinggi mana keimanan kita dan sehebat apa ujian yang sesuai dengan kita. di sini perlu kita sikapi, bahwa setiap ujian yang Allah SWT bebankan kepada kita sesungguhnya memiliki berjuta-juta hikmah, antara lain ada tiga mutiara dibalik ujian dan cobaan hidup sebagai berikut :

Ujian adalah hadiah dari Allah SWT

Suatu ujian dari Allah SWT, sesungguhnya bukan berarti bahwa Allah SWT bermaksud menganiaya hamba-Nya. Tetapi sebaliknya, ujian merupakan kasih saying Allah SWT kepada hamba-Nya karena dengan ujian tersebut ia akan dapat mengetahui manisnya iman, dzikir, dan taqarrub bilah. Disini tergambarkan, bahwa ujian merupakan rahmat dari Allah SWT kepada hamba yang disayangi-Nya.

Artinya:

“Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?. {al-Anbiya’/21: 30}

Cobaan adalah sarana menggapai pahala bagi orang yang sabar, apabila seorang hamba bersabar, maka Allah SWT akan memberikan kepadanya pahala atau dihapus-kan sebagian dari dosa dan diangkat derajatnya, hingga ujian itu menjadi satu nikmat baginya, sebagaimana hadist Rasullullah SAW. “Tidak ada seorang Muslim yang ditimpa gangguan semacam tusukan duri atau lebih berat daripadanya melainkan dengan ujian itu dihapuskan Allah SWT perbuatan buruknya serta digugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya”. (HR. Al-Bukhari). Sakit adalah pembersih dosa apabila kita bersabar. Semakin besar ujian seseorang maka semakin besar pula pahala yang diperolehnya manakala ia berhasil menyikapi ujian tersebut.

Ujian meningkatkan keimanan

Terkadang, seorang hamba hanya mengingat Allah SWT saat menghadapi ujian, yang dapat menyadarkannya bahwa ia adalah makhluk yang lemah, tidak berdaya, dan membutuhkan pertolongan Allah SWT.

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. Dan Sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus”. {al-Kahf/18: 7}

Dengan ujian tersebut, membuatnya semakin bertakwa yaitu menjaga diri dari segala perbuatan yang menyimpan dari syariah Allah SWT dan menjauhi semua perbuatan yang dimurkai oleh Allah SWT. Dengan kata lain, cobaanmerupakan peluit peringatan bagi yang lupa, dimana Allah SWT ingin mengingatkan kita kepada-Nya, ingin melihat rintihan kita sehingga kita mau meminta atau merayu kepada-Nya. Seperti gempa bumi, gunung meletus, dan lain-lain, untuk membangkitkan kesadaran dan kedekatan seseorang hamba kepada-Nya.

Sejatinya, seorang Muslim yang baik akan menjadikan ujian sebagai muhasabah diri sebagai momentum lebih mendekatkan diri kepada-Nya untuk lebih baik pada hari yang mendatang. Logikanya, ibarat ujian di sekolah untuk naik kelas demikian juga halnya ujian Allah SWT yang diberikan kepada hamba-Nya, maka apabila lulus dengan ujian tersebut maka Allah SWT akan mengangkat derajatnya.

Ujian membuat kita semakin kuat

Apabila kita ditimpa suatu kesulitan, maka itu adalah merupakan suatu pertanda bahwa Allah SWT ingin menjadikan seorang yang kuat. Seseorang tidak akan merasa kemanisan sesuatu apabila tidak melalui sebuah kesulitan, dan sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan, setiap ujian mengandung permata yang berharga bagi orang-orang yang bersabar. Faktanya banyak orang sukses yang mengaku bahwa menemukan keberhasilannya melalui dari semua tantangan dan kerasnya bumbu-bumbu kehidupan yang sudah ia dihadapi.

Artinya;

“…mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah SWT menjadikan padanya kebaikan yang banyak’. {QS. An-Nisa’/4:19}

Tanpa tekanan, semua berjalan dengan mudah terkadang terasa membosankan. Untuk itu, dalam kehidupan kita selalu naik-turun, dan menang-kalah, terkadang dari kegagalan itulah kita banyak mendapatkan pelajaran dari sebuah kesuksesan, maka para penyair sering mengatakan pengalaman adalah guru yang paling berharga. Bukankah dari sebuah permasalahan yang memaksa kita untuk banyak belajar guna menuntaskan persoalan tersebut tanpa ada persoalan terkadang membuat kita malas-malasan, lewat masalah membuat kita berfikir dan sementara ujian dan cobaan membuat mental kita semakin kuat.

Kita tidak akan bisa lari suatu ujian dan cobaan, karena ujian dan cobaan akan selalu mengikuti kita, dimana pun kita berada dan kapan waktunya kita tidak tahu yang pasti ia akan mendatangi kita tanpa diundang. Kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapinya seperti menghadapi ujian semesteran di sekolah apabila kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya maka umumnya akan mendapatkan hasil yang baik pula. Seandainya, kita mempersiapkan diri diawal terlebih dahulu sebelum terjadi niscaya kita akan dapat menerima kenyataan dan tenang dalam menghadapi berbagai cobaan serta masalah hidup. Kebanyakan orang menderita bukan karena kenyataan yang terjadi tetapi karena tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Ujian dan cobaan dalam kehidupan akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih kuat. Seperti kesabaran kelas tinggi adalah merupakan keterampilan yang berdiri dibawah tekanan-demi tekanan.

Ujian dan cobaan itu tidak hanya berupa kesusahan, kesulitan, dan penderitaan saja, tetapi dapat juga berbentuk kesenangan, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Anbiya’ ayat 35 “…Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan…”. Ujian dengan nikmat harta kekayaan atau berbagai kesenangan, pada hakikatnya lebih berat daripada ujian dengan bencana, siksaan, dan lain-lain sebagaimana yang dikhawatirkan Rasulullah SWT dalam satu riwayata bersabda “Demi Allah, bukanlah kakafiran atau kemiskinan yang aku kuatirkan atas kalian, akan tetapi justru aku khawatirkan (apabila) kemewahan dunia yang kalian dapatkan sebagaimana telah di berikan kapada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian bergelimang dalam kemewahan itu sehingga binasa, sebagaimana mereka bergelimang dan binasa pula”.

Dalam perjalanan dunia dari waktu ke waktu, semakin buruk, dan kacau tidak karuan, dimana manusia semakin berutal disebabkan tidak meperdulikan aturan agama sehingga rusaknya moral. Orang adil terpencil, orang benar diteror, dan orang salah malah berkibrah. Akibatnya, banyak terjadi bencana, mulai virus (penyakit) sampai kepada tsunami, banjir Bandang, tanah longsor, gempa bumi. Dan sepanjang perjalanan umat manusia, belum ada yang mampu melawan kehendak Allah SWT, kendati pun negara-negara maju teknologi seperti Jepang atau Amerika Serikat belum mampu menggagalkan gempa bumi.

Penutup

Ujian diberikan Allah SWT, untuk mengetahui mana orang-orang yang benar beriman dan berpura-pura beriman. Oleh karena itu, jangan jadikan ujian melemahkan kita, tetapi sebaliknya ujian itu menguatkan kita sebab kita tidak mengetahu persis akan rahasia Allah SWT yang diberikan-Nya kepada kita dibalik semua ujian demi ujian tersebut. Selama roda kehidupan terus berputar, ujian dan cobaan tidak akan pernah luput dari kita datang silih berganti, yang terpenting buat kita dalam menyikapinya adalah introspeksi diri dan semakin mendekatkan diri kita kepada Allah SWT sebagaimana pesan Rasulullah SAW, sesungguhnya dibalik semua ujian Allah SWT adalah hikmanya, apabila memperoleh kesenangan bersyukurlah, dan apabila memperoleh kesusahan maka bersabarlah.

Sabar dalam artian mampu bertahan dalam keadaan yang sulit, namun bukan berarti menerimanya begitu saja tetapi bersabar untuk terus mencari solusi supaya terlepas dari –kesulitan-kesulitan tersebut. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari ujian-ujian yang diberikan Allah SWT dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada-Nya, amiin.

Sumber :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *