Menikmati Dunia Dengan Zuhud.

 Sumber : google.com

Saudaraku, dalam menjalankan misi kotornya mengelabui dan memperdaya manusia, nafsu dan syetan sering menggunakan “kedok” kesenangan dunia. Harapannya adalah agar manusia jadi terlena dalam buaian dan belaian dunia uthopis yang sesungguhnya hanya menjanjikan kenikmatan fatamorgana belaka, manusia dibuat lupa bahwa hidup di dunia hanyalah sementara, mereka lupa bahwa sesudah di dunia ini ada “dunia” lain, itulah dunia akhirat, tempat dimana manusia harus mempertanggung-jawabkan semua yang ia perbuat selama hidup di dunia ini.

Begitulah, dunia yang sesungguhnya tidak ada nilai dan harganya ini betul-betul telah diselimuti oleh syetan dan nafsu dengan selimut indah, berhiaskan pernik-pernik keindahan, sehingga tiadalah seorang manusia memandang dunia hanya sebatas selimutnya saja, kecuali di sana ia akan menemukan keindahan magnetik yang mempesonakan, yang membuatnya tak mampu, atau tepatnya tak mau, bergeming walau satu incipun dari aura keindahan (nisbi-pen) yang dipendarkan oleh selimut dunia. Saat itulah dunia akan menelikungnya dan menjebloskannya ke dalam belenggu ketergantungan kepada nafsu syahwati dengan kwalitas sangat rendah, kemudian menyeretnya menjadi budak-budak dunia.

Alloh Ta’ala berfirman : “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pelindungnya ?” (QS. Al Furqan : 43 )

Hamparan selimut dunia yang dibentangkan oleh syetan dan nafsu ini sebenarnya juga punya tujuan lain, yaitu memalingkan “wajah” manusia, khususnya hamba-hamba beriman, dari semula bertawajjuh (menghadap) kepada Alloh menjadi berpaling kepada kesemuan dunia, sehingga dunia berubah menjadi “tirai” penutup yang menghalang-halangi seorang mukmin untuk bisa menikmati keindahan Cahaya Alloh lewat pertemuan-pertemuan Ilahiyah melalui shalat, dzikir dan ibadah lainnya, yang aura keindahannya jauh lebih mempesonakan ketimbang keindahan (semu-pen) selimut dunia.

Saudaraku, ketika seorang mukmin berpaling dari Keindahan Cahaya Alloh, sumber hidayah dan ketenangan hakiki kepada keindahan semu selimut dunia yang hanya akan melahirkan kesesatan dan ketenangan semu, berarti ia telah merenggut dengan tangannya sendiri, hidayah dan ketenangan hakiki ini kemudian mencampakkannya ke dalam sampah kehidupan, untuk kemudian dia kenakan kesesatan dan ketenangan semu yang sarat kepalsuan dan tipu daya.

Saudaraku, tidak demikian halnya dengan seorang mukmin yang selalu dalam keadaan “terjaga” (yaqdhah), ia senantiasa berusaha “menyembunyikan” diri, menghindar dari terpaan kilau dunia yang setiap saat menyergap dirinya. Untuk itu, ia pun akan merajut “tirai” dalam corak yang berbeda, yang akan ia pakai untuk membiaskan pesona keindahan selimut dunia, sehingga tidak sampai memalingkannya dari pesona keindahan Cahaya Alloh yang telah memendar ke seluruh sum-sum sukmawinya.

Dia akan merajut “tirai” itu dengan menggunakan benang-benang zuhud dan jarum-jarum qana’ah yang kemudian dia percantik dengan pernik-pernik kesederhanaan.

Dengan zuhud ia akan “menyerahkan” kembali dunia yang telah diberikan kepadanya kepada Yang Memberinya, yaitu Alloh Sang Pemberi rizki. Kalaupun ia ingin memakai dunia yang ia miliki, maka ia akan memakainya hanya beberapa tetes saja, sebatas ia memerlukannya, itu pun tidak karena ingin memanjakan nafsunya, namun semata-mata karena memenuhi perintah-Nya. Baginya rizki dari Alloh bukanlah dari apa yang ia terima, akan tetapi dari apa yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki hubungannya dengan Alloh dan dari apa yang bisa ia berikan untuk membahagiakan sesama.

Dengan qana’ah ia akan merasa cukup hanya dengan beberapa tetes dunia yang membasahi kerongkongan kehidupannya. Ia tidak ngoyo, tidak pula berambisius, karena “ambisi” dia adalah akhirat.

Dan dengan pernik kesederhanaan, ia akan hidup jauh dari gemerlap glamourisme, dan menghindar dari gaya hidup hedonistik, yang memanjakan hawa nafsu. Setiap kelebihan harta yang dimilikinya lebih suka ia “simpan” di kantong-kantong fakir miskin, yatim piatu, masjid, madrasah, pesantren, da’wah dan lain sebagainya.

Dengan demikian harta dan kedudukan dunia tidak membuatnya lalai dari Alloh, sehingga tak sejumputpun kebahagiaan hakiki (yang ia renda bersama-Nya) akan hilang tercuri.

Makna Zuhud.
Zuhud adalah berpalingnya keinginan terhadap sesuatu kepada sesuatu yang lain yang lebih baik. Atau berpindah dari satu keadaan yang tak bernilai menuju ke keadaan yang bernilai.

Yunus bin Maisarah berkata : “Zuhud terhadap dunia itu bukanlah mengharamkannya, bukan pula membuangnya. Tapi zuhud terhadap dunia berarti kamu yakin dan percaya kepada apa yang ada dalam Genggaman Alloh daripada apa yang ada dalam genggamanmu. Juga menyimpan keadaan dan sikap yang sama, baik ketika engkau mendapat musibah atau tidak, baik ketika ada orang yang memuji atau mencelamu.”

Abu Sulaiman berpesan zuhud itu ada tiga macam :
(Pertama) Hendaklah kamu lebih yakin dan percaya kepada apa yang ada di Tangan Alloh dari pada ada di tanganmu. Ini adalah buah dari keyakinan yang benar lagi kuat.
(Kedua) Hendaklah kamu lebih mengharapkan pahala atas musibah yang sedang menimpa ketimbang mengharap pahala atas anugerah kenikmatan yang ada pada dirimu.
(Ketiga) Hendaklah kamu memandang sama terhadap orang yang memujimu dan mencelamu.

Ali Radhiyallohu ‘anhu berkata : “Barang siapa zuhud terhadap dunia maka akan terasa ringanlah segala musibah yang menimpa.”
Sebagian ulama salaf bertutur : “Kalaulah bukan karena musibah dunia yang menimpa, pastilah kita memasuki akhirat dalam keadaan pailit.”
Fudlail bin ‘Iyadh berkata : “Pondasi zuhud adalah ridla terhadap segala yang datang dari Alloh dan qana’ah terhadap pemberian-Nya.

Abu Hazim pernah ditanya : “Apa saja harta milik Anda ?” Beliau menjawab: “Hartaku ada dua, yang dengan keduanya aku tidak pernah takut menjadi fakir selama saya memilikinya, yaitu tsiqqah (yakin dan percaya) kepada Alloh dan tidak mengharapkan apa yang dimiliki oleh sesama manusia.”

Tingkatan Zuhud
Pertama, orang yang zuhud terhadap dunia tetapi ia masih menginginkannya, tapi ia berusaha keras, bermujahadah, menahan diri terhadap keinginan duniawi.

Kedua, orang yang zuhud terhadap dunia sebagai bukti ketaatannya kepada Alloh. Ia melihat dunia itu sebagai sesuatu yang suram bila dibanding dengan apa yang ada di Sisi Alloh yang ingin diraihnya.

Ketiga, orang yang zuhud terhadap dunia karena ingin mendapatkan kemuliaan di Sisi-Nya, dan ia zuhud dalam kezuhudannya tersebut. Dia seperti orang yang membuang sampah sambil mengambil mutiara, atau seperti orang yang ingin memasuki istana raja tetapi dihadang oleh seekor anjing di depan pintu gerbang. Lalu ia melemparkan sepotong roti untuk menyibukkannya. Akhirnya ia pun bisa masuk menemui sang raja.

Begitulah, syetan adalah anjing yang menggonggong di depan pintu gerbang menuju Alloh, menghalangi setiap manusia untuk memasukinya, padahal pintu itu terbuka, hijabnya pun tersingkap.

Dunia ini ibarat sepotong roti. Siapa yang ingin menggapai kemuliaan Alloh, Sang Maha Raja, maka bagaimana mungkin masih memperhitungkannya, apalagi mendekapnya? Ia pasti akan segera “melemparkan” roti tersebut, agar ia bisa sampai ke Hadirat-Nya, menggapai maqam terpuji (maqamam mahmuda).

Ya Alloh, cukupilah hidupku dengan rizkiMu yang halal, jauhkan diriku dari sesuatu yang Engkau haramkan, curahkan anugrahmu kepadaku, jauhkan aku dari meminta sesuatu kepada selain Engkau.

Ya Alloh, jauhkan kami dari fitnah dunia. Jangan Kau biarkan dunia bersemayam di lubuk hati kami. Jangan Kau biarkan dunia menipu dan memperdaya kami yang membuat kami berpaling dan melupakan-Mu.

Ya Alloh, titipkan kepada kami dunia yang membuat kami menjadi semakin zuhud, qana’ah dan sederhana, semakin dekat dengan-Mu dan semakin bermanfaat buat sesama.

Kisah Berhikmah
Ketika Seorang Mukmin Dianugerahi Ni’mat Duniawi
Syahdan, saat Umar bin Abdul Aziz baru saja didaulat menjadi khalifah, menggantikan khalifah sebelumnya. beliau menyambutnya dengan derai air mata ketakutan. Ketika istri beliau, Fathimah menanyakan hal ini beliau pun menjawab: “Saya khawatir dengan jabatan khalifah ini, saya tidak bisa melindungi mereka yang mestinya harus dilindungi, tidak bisa menjaga mereka yang mestinya harus dijaga, tidak bisa menyantuni mereka yang mestinya harus disantuni, sehingga saya tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Alloh di hari akhirat nanti, karena itulah saya menangis.”

Saudaraku, seorang mukmin tidak akan memandang ni’mat duniawi sebagai anugerah, ia memahaminya sebagai amanah yang Alloh titipkan kepadanya, yang tentunya ia harus bertanggung jawab terhadap amanah tersebut, karena besok di akhirat nanti Alloh pasti akan menanyakan seluruh amanah ni’mat duniawi tersebut.
Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Seorang hamba tidak akan dizinkan melangkahkan kakinya di hari qiyamat nanti, sampai ia ditanya tentang 5 hal : Tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya untuk apa dipergunakan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dipergunakan dan tentang ilmunya apa yang sudah ia amalkan.”
Kisah Umar bin Abdul Aziz di atas mengajarkan kepada kita lima sikap yang paling tidak akan menjadi prinsip seorang mukmin setiap kali ia berhadapan dengan “anugerah” ni’mat duniawi ini yaitu :

Menganggapnya sebagai ujian.
Menerimanya dengan rasa berat, karena khawatir tidak bisa menjaganya dengan baik.
Berusaha menjaganya dengan baik, yakni dengan mentasharufkannya (mempergunakannya) sesuai dengan keinginan Dzat yang telah “menganugerahkan” ni’mat duniawi tersebut.
Tidak memiliki ambisi untuk mendapatkan “anugerah” duniawi ini, lebih-lebih sampai mengalahkan kepentingan-kepentingan ukhrawiyahnya.
Tidak menganggapnya sebagai tujuan hidup di dunia, apalagi menjadikannya sebagai parameter sebuah kebahagiaan.
Ya Alloh, jauhkan kami dari fitnah dunia. Jangan Kau biarkan dunia bersemayam di lubuk hati kami. Jangan Kau biarkan dunia menipu dan memperdaya kami yang membuat kami berpaling dan melupakan-Mu.

Ya Alloh, titipkan kepada kami dunia yang membuat kami menjadi semakin zuhud, qana’ah dan sederhana, semakin dekat dengan-Mu dan semakin bermanfaat buat sesama.

Sebelumnya pahami kalau orientasi do’a (memohon kepada Alloh) adalah ibadah semata, sekaligus kesadaran untuk merobah diri. Soal hasil dari do’a itu bukan urusan kita, tapi urusan Alloh. Dan Alloh pasti akan mengabulkan semua do’a kita dengan mengaruniakan segala yang terbaik untuk kita.

Tugas kita hanyalah berikhtiar, soal hasil bukanlah urusan kita, tapi urusan Alloh. Kalau kita sudah berikhtiar dengan ikhlas, maka pahala akan tetap mengalir untuk kita, meski hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Nilai sebuah ikhtiar akan selalu jauh lebih besar dari pada hasil yang diperoleh. Karena itu janganlah rusak nilai sebuah ikhtiar dengan kekecewaan melihat hasil.

 

 

Sumber :
– mediasholeha.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *